Aku terlahir dari
keluarga sederhana. Ayahku bekerja sebagai pedangan asongan dikota seberang.
Ibuku membantu dengan membuat makanan kecil berbahan dasar kacang tanah. Aku
anak pertama dari dua bersaudara. Usiaku beselisih 5 tahun dari adikku.
Sebelum adikku dikahirkan,aku anak
tunggal*EMANG* saat itu aku dan kedua orang tuaku tinggal di sebuah rumah
kecil. Aku kurang ingat saat itu,karena usiaku kira-kira baru 3 atau 4 tahunan.
Sejak awal menikah dengan
ibuku,ayahku pergi merantau ke kota seberang dengan harapan mendapatkan
pekerjaan untuk menghidupi kami. Menurut cerita ibuku, ayah meniggalkan kami
saat aku masih bayi,dan kembali saat usiaku sekitar 1 tahun. Ayah kembali dari
perantauan dalam waktu yang cukup lama menurutku. Ia kembali dalam keadaan
sakit. Aku tidak mengetahui dengan jelas apa penyakitnya,tapi menurut
ibuku,ayah itu bahkan sampai batuknya bercampur darah. Hal tersebut karena
dinegeri orang itu,ayah sembarang tidur. Jika tengah malam,dimana tempat yang
ia temui disitulah dia kan tidur. Ia pernah tidur dikolong jembatan dan juga di
depan toko-toko yang sudah tutup. Ia tidak punya pekerjaan.. karena ayahku
bukan orang berpendidikan. Ia bahkan tidak mengenyam bangku SD. Untuk
mendapatkan uang,ayah bekerja dengan menjual rokok yang disusun rapi dikotak
kecil bertali yang dikalungkan di lehernya.
Setelah sembuh dari
penyakitnya,ayahku kembali merantau. Kali ini ia mengajak aku dan ibuku. Disana
aku dan ibu tinggal dirumah Bibi dari ayahku.
Sedang ayahku hanya sesekali menengok kami,karena ia harus terus mencari
nafkah untuk menghidupi kami. Disitulah aku menikmati masa kecilku.
-Pulang kampung-
Saat itu ibuku tengah
mengidam,sehingga kami kembali ke kampung halaman. Kembali menempati rumah yang
selayaknya disebut gubuk. Yaahh,,rumah ku tercinta ini semakin reot saja.
Atapnya bocor,dindingnya berlubang.
Sebenarnya aku kurang ingat.
Saat itu usiaku 4 tahun. Aku mulai
masuk TK. Kata orang-orang,aku sangat nakal. Aku anak yang rewel dan suka
memaksakan kehendak. Mana aku sadar :D
-skip-
Ibuku akhirnya melahirkan,aku punya
adik. Tidak hanya satu,tapi dua. Betapa senangnya hati ini. Begitu juga ayahku.
Ia pulang dari perantauan saat ibuku melahirkan. Ibuku merawat kami dengan
penuh kasih sayang. Aku pun sangat menyayangi kedua adikku. Hingga suatu
hari,adikku yang pertama menderita sakit. Ia muntah-muntah. Hingga kemudian
meninggal. Ibuku sangat terpukul dengan kejadian itu. Aku yang belum mengerti
apa-apa ikut sedih.
Beberapa tahun kemudian,aku mulai
masuk SD. Ayahku semakin sering pergi merantau. Saat kelas 4 SD kami sekeluarga
berangkat kedaerah perantauan ayahku. Aku meninggalkan sekolahku.
-perantauan-
Kami menyewa sebuah kamar didaerah
dekat tempat ayahku berjualan. Aku,adikku,ibu dan ayah tidur berdesakan dikamar
kecil itu. Kamar yang merangkap sebagai dapur,ruang tamu dan tempat tidur.
Setiap malam aku menghabiskan waktuku
untuk bergadang. Yaahh,,untuk anak seusiaku mungkin hal tersebut bukan
perbuatan yang baik. Aku tidur mulai jam 3 pagi dan bangun pada pukul 4 atau 5
sore.
Kebiasaanku bergadang
dikarenakan,tiap malam ayahku memang pulang jam 3an. Aku menunggu makanan yang
ia bawakan memang,kalau sehabis jualan ia memebawa beberapa buah gorengan yang
diberikan oleh penjual gorengan yang dikenalnya. Aku menunggu makanan itu.
Suatu hari,ketika aku berjalan-jalan
dipelataran took,tidak sengaja aku tiba di Lampu merah. Kulihat banyak
kendaraan disana. Karena penasaran,aku mendekat. Ohhh tuhaan. Ayahku juga ada
disana. Dia menawarkan kepada sopir mobil untuk sekedar membeli sebatang rokok atau
sebungkus permen. Tapi tidak ada yang membeli. Kulihat sekelling,ternyata bukan
ayahku saja yang bekerja seperti ini. Ada banyak bapak-bapak bahkan
remaja-remaja. Kasihan ayahku…,ia rela tubuhnya terbakar matahari hanya untuk
mencari nafkah. Ya allah.. betapa bersalahnya diriku ini. Ayahku begitu sulit
mencari nafkah,dan aku yang menikmatinya tidak pernah bersyukur.
betapa berharganya segelas air mineral untuk ayahku. walaupun hanya segelas yang laku, tapi rasa syukurnya begitu besar.
pedagang asongan sudah menjadi mata pencaharian ayahku. tapi sayang, kerap kali ada penertiban kota yang dilakukan oleh s*tpolpp. saat itu terjadi,, ayah dan pedagang lain lari tunggang langgang menyelamatkan diri dan toko dadanya itu. jika tertangkap maka "kas" atau toko dada itu akan disita. sejujurnya aku marah dengan para stp*lpp itu, tapi aku menyadari mereka hanya menjalankan tugas .
pemerintah boleh saja membersihkan para para pedagang kecil di lampu merah TAPI HARUS JUGA MEMIKIRKAN BAGAIMANA NASIB MEREKA, JANGAN CUMA TAU ANGKAT KAKI DI BALIK MEJA KERJA DENGAN KESEJUKAN YANG TIDAK PEPRNAH DIRASAKAN PARA PEDAGANG ITU.
PIKIRKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT. JANGAN CUMA MEMIKIRKAN KESEJAHTERAAN PERUT ANDA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar