Sabtu, 09 Desember 2017

            Aku terlahir dari keluarga sederhana. Ayahku bekerja sebagai pedangan asongan dikota seberang. Ibuku membantu dengan membuat makanan kecil berbahan dasar kacang tanah. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Usiaku beselisih 5 tahun dari adikku.
             Sebelum adikku dikahirkan,aku anak tunggal*EMANG* saat itu aku dan kedua orang tuaku tinggal di sebuah rumah kecil. Aku kurang ingat saat itu,karena usiaku kira-kira baru 3 atau 4 tahunan.
Sejak awal menikah dengan ibuku,ayahku pergi merantau ke kota seberang dengan harapan mendapatkan pekerjaan untuk menghidupi kami. Menurut cerita ibuku, ayah meniggalkan kami saat aku masih bayi,dan kembali saat usiaku sekitar 1 tahun. Ayah kembali dari perantauan dalam waktu yang cukup lama menurutku. Ia kembali dalam keadaan sakit. Aku tidak mengetahui dengan jelas apa penyakitnya,tapi menurut ibuku,ayah itu bahkan sampai batuknya bercampur darah. Hal tersebut karena dinegeri orang itu,ayah sembarang tidur. Jika tengah malam,dimana tempat yang ia temui disitulah dia kan tidur. Ia pernah tidur dikolong jembatan dan juga di depan toko-toko yang sudah tutup. Ia tidak punya pekerjaan.. karena ayahku bukan orang berpendidikan. Ia bahkan tidak mengenyam bangku SD. Untuk mendapatkan uang,ayah bekerja dengan menjual rokok yang disusun rapi dikotak kecil bertali yang dikalungkan di lehernya.
Setelah sembuh dari penyakitnya,ayahku kembali merantau. Kali ini ia mengajak aku dan ibuku. Disana aku dan ibu tinggal dirumah Bibi dari ayahku.  Sedang ayahku hanya sesekali menengok kami,karena ia harus terus mencari nafkah untuk menghidupi kami. Disitulah aku menikmati masa kecilku.
-Pulang kampung-
Saat itu ibuku tengah mengidam,sehingga kami kembali ke kampung halaman. Kembali menempati rumah yang selayaknya disebut gubuk. Yaahh,,rumah ku tercinta ini semakin reot saja. Atapnya bocor,dindingnya berlubang.  Sebenarnya aku kurang ingat.
Saat itu usiaku 4 tahun. Aku mulai masuk TK. Kata orang-orang,aku sangat nakal. Aku anak yang rewel dan suka memaksakan kehendak. Mana aku sadar :D
-skip-
Ibuku akhirnya melahirkan,aku punya adik. Tidak hanya satu,tapi dua. Betapa senangnya hati ini. Begitu juga ayahku. Ia pulang dari perantauan saat ibuku melahirkan. Ibuku merawat kami dengan penuh kasih sayang. Aku pun sangat menyayangi kedua adikku. Hingga suatu hari,adikku yang pertama menderita sakit. Ia muntah-muntah. Hingga kemudian meninggal. Ibuku sangat terpukul dengan kejadian itu. Aku yang belum mengerti apa-apa ikut sedih.
Beberapa tahun kemudian,aku mulai masuk SD. Ayahku semakin sering pergi merantau. Saat kelas 4 SD kami sekeluarga berangkat kedaerah perantauan ayahku. Aku meninggalkan sekolahku.
-perantauan-
Kami menyewa sebuah kamar didaerah dekat tempat ayahku berjualan. Aku,adikku,ibu dan ayah tidur berdesakan dikamar kecil itu. Kamar yang merangkap sebagai dapur,ruang tamu dan tempat tidur.
Setiap malam aku menghabiskan waktuku untuk bergadang. Yaahh,,untuk anak seusiaku mungkin hal tersebut bukan perbuatan yang baik. Aku tidur mulai jam 3 pagi dan bangun pada pukul 4 atau 5 sore.
Kebiasaanku bergadang dikarenakan,tiap malam ayahku memang pulang jam 3an. Aku menunggu makanan yang ia bawakan memang,kalau sehabis jualan ia memebawa beberapa buah gorengan yang diberikan oleh penjual gorengan yang dikenalnya. Aku menunggu makanan itu.
Suatu hari,ketika aku berjalan-jalan dipelataran took,tidak sengaja aku tiba di Lampu merah. Kulihat banyak kendaraan disana. Karena penasaran,aku mendekat. Ohhh tuhaan. Ayahku juga ada disana. Dia menawarkan kepada sopir mobil untuk sekedar membeli sebatang rokok atau sebungkus permen. Tapi tidak ada yang membeli. Kulihat sekelling,ternyata bukan ayahku saja yang bekerja seperti ini. Ada banyak bapak-bapak bahkan remaja-remaja. Kasihan ayahku…,ia rela tubuhnya terbakar matahari hanya untuk mencari nafkah. Ya allah.. betapa bersalahnya diriku ini. Ayahku begitu sulit mencari nafkah,dan aku yang menikmatinya tidak pernah bersyukur. 
betapa berharganya segelas air mineral untuk ayahku. walaupun hanya segelas yang laku, tapi rasa syukurnya begitu besar.
pedagang asongan sudah menjadi mata pencaharian ayahku. tapi sayang, kerap kali ada penertiban kota yang dilakukan oleh s*tpolpp. saat itu terjadi,, ayah dan pedagang lain lari tunggang langgang menyelamatkan diri dan toko dadanya itu. jika tertangkap maka "kas" atau toko dada itu akan disita. sejujurnya aku marah dengan para stp*lpp itu, tapi aku menyadari mereka hanya menjalankan tugas .
pemerintah boleh saja membersihkan para para pedagang kecil di lampu merah TAPI HARUS JUGA MEMIKIRKAN BAGAIMANA NASIB MEREKA, JANGAN CUMA TAU ANGKAT KAKI DI BALIK MEJA KERJA DENGAN KESEJUKAN YANG TIDAK PEPRNAH DIRASAKAN PARA PEDAGANG ITU.        
PIKIRKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT. JANGAN CUMA MEMIKIRKAN KESEJAHTERAAN PERUT ANDA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar